
Blurb
“Kenapa sih lo ngikutin gue terus?”
“Kamu cantik.”
“Gue emang Cantik.”
“Maksudku ... cantik, kata sifat.”
Gadis dengan potongan rambut pendek hampir menyentuh bahu itu menghela napas panjang. Dalam hati, berharap-harap cemas agar bus yang biasa mengantarnya pulang cepat datang. Selain karena sore ini langit mendung ... tapi juga karena ada cowok ini. Cowok yang mengikuti langkahnya ke halte.
“Kenapa sih Cantik, menjauh dari gue terus.”
Cantik melirik cowok berperawakan jangkung di sebelahnya. Oh, udah waras. Nggak aku-kamu lagi.
“Gue jahat. Itu alasannya.”
“Nggak, tuh? Aku lihat kamu kasih makan kucing waktu jam istirahat?”
Cantik mengernyit. “Lo ngikutin gue?”
“Kebetulan aja,” balas cowok berwajah oriental itu sekenanya.
“Intinya, jangan deket-deket gue lagi.”
“Kan kita temen sebangku, Can.”
“Yah, duduk aja. Nggak usah deket-deket.”
Tiba-tiba saja, cowok berambut gondrong itu sedikit membungkuk, mendekatkan wajahnya pada wajah Cantik yang lebih pendek daripada dirinya. Membuat Cantik bergidik dan refleks mundur selangkah. “Ih, apaan sih.”
“You're the first person i can talk to in the class.” Yuta berucap, melangkahkan kakinya maju, mendekati Cantik, membuat cewek itu terus melangkah mundur hingga menabrak tiang halte.
“Ya that's because i'm the only person who talk in english in the class.”
Yuta manggut-manggut. “Terbukti, cuma kamu doang yang bisa nyambung ngobrol sama aku.”
Cantik berdecak sebal. “Kenapa sih kamu tuh batu banget dibilangin jangan deket-deket.”
Bukannya gentar, Yuta malah senyum-senyum.
Cewek berhidung mancung itu menautkan kedua alisnya. Kayaknya cowok pindahan dari Jepang ini udah sinting.
“Kamu? seneng banget Can kamu ngomong aku-kamu ke aku.” Yuta malah cengar-cengir menggoda.
... Demi apapun, Cantik ingin mendorong Yuta ke selokan saat ini juga. Ia sendiri tanpa sadar ikutan aku-kamu karena Yuta terus bicara aku-kamu.
“Gue serius, ya. Jangan deket-deket gue atau lo bakal nyesel. Gue jahat. Lo tahu sendiri kan gue selalu makan siang sendirian karena nggak punya temen?”
Mendengar intonasi Cantik yang agak berbeda, senyuman Yuta lenyap. Ia menatap Cantik dalam.
Yuta tak menemukan apapun di sana. Binar bahagia, rasa risih dan tidak suka, atau apa pun. Terlalu kosong dan tidak bisa Yuta tebak.
“Kata Bunda gue, orang jahat adalah orang yang nggak bahagia, Can.” Yuta menjeda ucapan sebentar untuk menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa sekarang, karena entah mengapa, tiba-tiba saja dadanya terasa begitu berat kala menyadari bahwa mungkin saja gadis yang ia sukai itu ... tidak bahagia, “jadi, apakah lo merasa nggak bahagia?”
Cantik menelan salivanya dengan susah payah.
Bus yang biasa Cantik tumpangi datang, mengerem tepat di depan halte. Di waktu yang tepat.
Cantik pergi meninggalkan Yuta begitu saja, naik ke atas bus, tanpa pamit, dan tanpa menjawab Yuta lagi.
Dalam hati, ia merutuki hatinya yang begitu payah. Hampir. Hampir saja ia menangis di depan Yuta kala cowok itu menangkapnya basah bahwa ia ... tidak bahagia.