nakyu

fiction is a basic need

image

gue menghempaskan tubuh ke atas ranjang. berharap nyeri di hati gue hilang bersamaan dengan hilangnya penat pada punggung gue. tangan gue merogoh kantung kemeja, mengeluarkan ponsel.

sudah lima hari, dan jendral masih belum membalas chat gue. pun, batang hidungnya tak lagi terlihat di kampus.

gue menghela napas berat. memutuskan untuk berhenti mengecek room chat itu. berhenti khawatir, berhenti memikirkan jendral, dan ... barangkali, berhenti dari segalanya.

mungkin sejak pertama kali gue meraih jendral yang berada di titik terbawahnya itu, gue sudah sadar kalau gue nggak pernah menganggap dia sekadar teman. mungkin alasan gue meraih jendral hari itu karena gue memang sejak lama memerhatikannya dan khawatir, kemudian gue memberanikan diri untuk menggenggam tangannya. mungkin sejak hari itu, mungkin juga sebelumnya, perasaan itu sudah ada. tetapi, hati gue menolak. semakin hari, gue semakin takut perasaan gue membludak dan tak terkendali. gue berusaha keras merespon seadanya, berusaha terlihat normal dan tidak terlalu gembira setiap kali jendral muncul.

gue takut ditinggal lagi.

namun, melihat jendral nggak berusaha menjelaskan gosip yang beredar di kampus tentang dia dan maudy ke gue, membuktikan bahwa ... gue memang sudah kehilangan dia.

atau sejak awal, dia memang nggak pernah benar-benar di sisi gue.

dipikir lagi, dia cuma muncul waktu butuh. waktu nggak punya teman.

barangkali gue cuma dijadikan tempat lari dari ingar-bingar dunia, karena jendral tahu dia nggak akan pernah bisa jadi dirinya sendiri di tengah popularitas dan teman-temannya yang palsu itu.

oke, gue tahu beberapa menit lalu gue sudah memutuskan untuk nggak mengecek room chat gue dan jendral untuk ke-128 kalinya di hari ini, tapi siapa tahu??? dia??? membalas???

image

terserah.

meski sangat ingin bergelung di dalam selimut selama seminggu ke depan, gue melangkah dengan gontai ke luar kosan. sebenarnya gue nggak lapar, tapi gue tahu gue harus makan atau gerd gue bakal kumat lagi.

dari kejauhan, terlihat tenda nasi goreng pakdhe. aromanya tercium sampai sini.

ralat, mungkin gue memang lapar.

gue mempercepat langkah menuju tenda terpal berwarna oranye dengan spanduk bergambar lele, ayam, cumi, dan itik. namun, sebelum gue benar-benar sampai di sana, langkah gue terhenti.

mata gue memicing, menatap cowok dalam balutan jaket kulit hitam dan ripped jeans berwarna senada.

jendral?

sadar sedang diperhatikan, cowok itu celingukan, mencari sosok yang tengah mengamatinya.

pandangan mata kami bertemu.

ia tampak terkejut, namun dengan segera ia mengalihkan pandangannya.

“jen.” samar, dapat gue dengar suara perempuan yang baru saja keluar dari balik tenda. ia tersenyum manis. “tadi aku nungguin abangnya masak, aromanya enak bangettt. aku gak sabar mau makan.”

aku?

pulih dari keterkejutan, gue mempercepat langkah untuk menghampiri jendral. namun, sebelum gue sempat menghampiri jendral, cewek itu sudah naik ke boncengan jendral—dan motor itu pun melaju, meninggalkan asap knalpot dan gue ... yang cuma bisa mematung melihat punggung kedua muda-mudi itu lenyap di balik tikungan.


Shanina melangkah keluar. Rencananya ia hendak mengantar Jaemin pulang dulu, baru ia sendiri pulang ke flat kecilnya.

“Shan!”

Terdengar derap langkah mendekat, sebelum akhirnya berhenti di sebelah Shanina yang berdiri di luar studio, menunggu Jaemin keluar karena cowok itu masih punya urusan di dalam.

“Pulang naik apa? gue anter, ya?”

Cowok ini lagi.

“Nggak usah, gue bawa motor sendiri.”

Chenle ber-oh ria. Ia melirik satu-satunya motor yang terparkir di depan studio. Motor yang terlihat manly dan dicat doff.

“Motor lo keren,” puji Chenle.

Cewek yang mengenakan hoodie mint kebesaran itu manggut-manggut. “Thanks.”

“Lain kali gue traktir makan, deh.”

“Kalo lo begini karena merasa bersalah tentang jaket—you don't have to, okay? Cuma jaket.”

Cowok bermata sipit di hadapannya malah senyum-senyum. “Gue mau kenalan aja.”

“Udah kenal.”

“Nama gue siapa?”

Shanina menghela napas. “Chenle.”

Maksud Shanina, siapa sih yang nggak kenal Chenle? Cowok itu sudah sukses sejak usia muda, dan nggak berkenalan secara personal bukan berarti Shanina nggak pernah mendengar nama Chenle. Shanina nggak se-kurang-update itu. Dia kan nggak tinggal di goa.

Chenle malah senyum-senyum. Ia kemudian mengeluarkan ponsel dari kantung celananya, menyodorkannya pada Shanina.

Shanina menaikkan sebelah alis, menatap ponsel keluaran terbaru yang disodorkan padanya.

“Nomor lo.”

Oh ... itu maksudnya.

Sorry, gue nggak tukeran nomor sama orang di luar urusan pekerjaan.”

“Kita kan bakal ada project ke depannya.”

”???”

Project pendekatan.”

Shanina merinding. Hampir saja ia menyembur cowok di hadapannya.

“Aneh.”

Chenle membulatkan matanya mendengar gumaman yang keluar dari bibir kemerahan Shanina. Untuk pertama kalinya seseorang menyebutnya aneh, terlebih, di pertemuan pertama.

“Mending lo masuk, gue nggak mau sasaeng lo ngira gue dating sama lo.”

“Ide bagus. Kalo dating beneran gimana?”

Shanina bergidik. “Gila.”


Thanks, Na,” kata cowok yang mengenakan kaos hitam polos dan celana jeans itu begitu menerima gitar dari Shanina. “Mampir dulu, Na. Gue abis pesen jjampong. Sekalian makan sama temen-temen gue yang lain.”

Shanina menatap Jaemin datar. Tapi Jaemin tahu, cewek itu bingung. Soalnya, sejauh mereka kenal selama ini, Jaemin nggak pernah mengajaknya makan bersama teman-temannya.

“Gue—”

“Nggak ada penola—”

Brugh!

Shanina terdorong ke depan. Seseorang menubruk bahunya dengan sembrono, membuat Shanina hampir jatuh di atas Jaemin.

Sorry, sorry!

Sebelum Shanina pulih dari rasa syoknya, Jaemin langsung buru-buru masuk ke dalam studio untuk tak lama lagi keluar membawa hoodie berwarna mint-nya yang entah berapa lusin ia punya.

“Jaket lo basah.” Jaemin menunjuk noda kopi di lengan Shanina—yang sebenarnya nggak perlu diperjelas lagi karena Shanina juga tahu kalau jaketnya basah sekarang.

“Maaf banget ya, gue nggak sengaja.” Seorang cowok berambut cokelat gelap itu memungut gelas kopinya dari lantai seraya menatap Shanina dengan rasa bersalah. “Gue cuciin ya jaketnya?”

Shanina membalas dengan lempeng, seperti biasanya. “Nggak usah.”

“Kalo gitu laundry-nya—” Cowok itu mengeluarkan dompet dari celananya.

“Nggak usah. Gapapa. Santai aja.”

Sementara itu Jaemin melepas jaket Shanina dengan seenaknya, dan Shanina juga menurut saja.

Cewek itu cuma pakai tanktop tipis di balik jaketnya, membuat Jaemin menelan salivanya dengan canggung dan buru-buru memakaikan hoodie-nya pada Shanina.

“Tangan lo,” kata Jaemin melirik tangan Shanina.

Cewek berambut panjang itu memasukkan tangannya ke dalam lengan hoodie.

Kalau dilihat-lihat, Jaemin persis seperti seorang Ayah yang memakaikan anaknya hoodie saat ini.

“Udah, Le. Gapapa. Makan dulu, yuk,” ajak Jaemin pada cowok yang masih menatap Shanina dengan rasa bersalah.

Cewek itu sendiri melirik cowok yang menabraknya tadi dengan datar, kemudian memutuskan untuk mengikuti langkah Jaemin ke dalam ruang tunggu, meninggalkan cowok yang menyusul dengan langkahnya yang lebar-lebar.


Selama tiga puluh tahun hidupnya, Shanina selalu jadi gadis paling biasa-biasa saja. Di antara sekumpulan teman-teman SMP-nya yang cantik-cantik pun, Shanina yang cantik kelihatan biasa saja. Jadi tukang titip hadiah atau mak comblang seolah sudah menjadi suatu hal yang melekat dalam kehidupan Shanina.

Drrrt. Drrrt. Drrrt.

Gadis berperawakan semampai yang baru saja keluar dari sebuah kantor penerbitan itu mengeluarkan ponsel dari dalam inside pocket jaketnya, mendapati nama seseorang yang begitu familiar selama dua tahun belakangan muncul di layar ponsel.

Pip.

“Halo?”

“Na, udah selesai kerja? Lembur lagi?”

“Udah.”

“Boleh minta tolong ambilin gitar di apartemen gue, nggak?”

“Boleh.”

“Siiip, di kamar gue ya, tas item deket lampu.”

“Oke.”

“Dianter ke studio, abis ini gue share location.”

“Oke.”

“Udah makan?”

Shanina mengerjap, nggak biasanya cowok ini bertanya di luar kebutuhannya.

“U—”

“Eh, gue mau rekaman. Lo dateng aja deh, ya. Thanks, Na.”

Shanina menghela napas. Belum sempat ia menyahut, sambungan telah diputus secara sepihak. Ia pun memasukkan ponselnya kembali ke dalam inside pocket jaket denim kesayangannya. Namun, sebelum ponselnya tersimpan manis di dalam sana, lagi-lagi ponselnya bergetar.

Jaemin lagi.

“Hal—”

“Lo ke sini naik apa?”

“Biasa.”

“Leo?”

“Iya.”

“Oh. Ya udah, hati-hati.”

“Oke.”

Dengan begitu, telepon diputus begitu saja. Shanina pun melangkahkan kaki ke basement, menghampiri motor besar yang berwarna hitam doff. Kemudian, segera berangkat menuju apartemen Jaemin.

Misi Pertama: Terbang ke Korea


“Hai, malaikat ganteng.”

Ten mencebik mendengar sapaan gadis dengan pakaian khas pasien rumah sakit, piyama panjang polos berwarna biru pucat.

“Kamu punya misi pertama.”

“Apaan tuh? jadi pendamping hidup kamu?” goda gadis itu seraya menaikturunkan kedua alisnya.

Cowok berpakaian serba hitam itu menepuk dahi. “Saya aja nggak hidup, Bel.”

“Hidup sih, tapi jadi malaikat, hehe.”

“Iya, malaikat yang bisa bawa kamu kapan aja.”

“Bawa aja sekarang.”

Ten mendelik mendengar gadis itu terus-menerus menyahuti perkataannya. Ia menghela napas sambil menggeleng pelan. “Jangan ngomong gitu, ya, Bel. Kamu tuh belum bisa dibawa pergi. Masih ada misi yang harus diselesaiin.”

Abel manggut-manggut. “Ya udah apa?”

“Terbang ke Korea. Kamu harus menemukan alasan kamu bertahan di sana.”

“Tapi kan aku udah nggak hidup.”

“Abel!” desis Ten tidak sabaran. “Tolong jangan ngomong gitu terus, saya bisa dimarahin bos saya!”

“Hehehe.” Abel yang duduk di tepi meja operasi itu menggoyang-goyangkan kedua kakinya yang telanjang. “Caranya saya ke Korea gimana?”

“Pikir sendiri lah! yang punya misi kan kamu,” omel cowok berkemeja hitam kelam itu. Ia membetulkan letak kacamata berbingkai tipis berwarna senada. “Udah ya, saya banyak kerjaan. Saya pusing kerjaan saya banyak yang terbengkalai karena kamu gangguin terus.”

Abel cengar-cengir. “Yah, itu mah kamunya aja kurang pro jadi malaikat.”

Ten melotot, kemudian memutuskan untuk nggak menyahuti gadis iseng di hadapannya. Ten memutuskan berbalik, kemudian ia pun lenyap ditelan bayang.


Abel menggerutu dalam hati. Sebenarnya Ten tuh tugasnya apa, sih? dan kenapa Abel di sini? kenapa Abel punya misi? Abel kira, kalau dia sudah lepas dari tubuhnya, dia tinggal pergi saja. Konon kata orang-orang yang pergi dengan cara yang sama seperti Abel, rasanya sakit sekali saat dijemput, tapi hal yang sama nggak terjadi pada Abel. Sebentar deh, memangnya mereka masih bisa disebut orang, ya?

Wajarnya, Abel bisa berpindah tempat dengan cepat. Sekejap dia berada di ruang operasi, kadang di kamar pasien lain, kadang di laboratorium. Ia bisa pindah kemana saja. Setidaknya begitulah yang Abel pikir. Apalagi Abel pernah pergi ke Dofun tanpa biaya transportasi dan main wahana sepuasnya! Keren banget. Jadi, wajar aja kalau Abel pikir dia betulan bisa pergi kemana saja dengan wujudnya sekarang.

Sebenarnya juga Abel kurang mengerti teknisnya bagaimana, yang ia tahu hanyalah kemana pun ia mau pergi, ia bisa sampai ke sana dalam sekejap.

Tapi masalahnya, Abel nggak bisa tiba-tiba pergi ke Korea. Ia sudah berulang kali memikirkan Korea-Korea-Korea tapi gagal. Ia masih stuck di ruang operasi tempatnya terakhir mengobrol dengan Ten.

“Hey!”

Abel menoleh, mendapati seorang wanita dengan wajah setengah hancur melambai pelan dari balik tirai ruang operasi yang tak tertutup penuh. Gaun pasiennya yang berwarna hijau pucat dengan sedikit bercak darah berembus pelan. Wanita yang tampaknya seumuran dengan Abel itu tersenyum dengan wajahnya yang nggak sempurna lagi.

“Hai!” Abel tersenyum lebar, balas melambai pada wanita itu. Penghuni rumah sakit ini memanggilnya Queensha. Panggilan barunya karena dia nggak ingat namanya.

Sebentar, tmi sedikit. Queensha bilang, dia sendiri yang request ke teman-teman sejawatnya supaya dipanggil dengan nama itu karena katanya namanya keren. Kayak orang kaya di sinetron. Yah, Queensha emang suka nimbrung nonton sinetron di rumah sakit.

“Kamu kok diem aja di sini?” tanya Queensha. Ia ikut duduk di sebelah Abel yang duduk di tepi meja operasi.

Abel manggut-manggut. “Iya, aku tiba-tiba nggak bisa kemana-mana.”

“Lho, kenapa?” Queensha tampak terkejut, yang sebenarnya membuat wajahnya tampak lebih mengerikan lagi, namun nggak membuat Abel takut karena ia sudah cukup beradaptasi setelah beberapa bulan berkeliaran di rumah sakit ini.

Abel menimbang-nimbang apakah sebaiknya dia memberi tahu Queensha tentang misinya pergi ke Korea atau tidak. Bagaimana kalau misi ini sebenarnya rahasia? tapi Ten sama sekali nggak bilang kalau misi ini rahasia. Lagian, Abel bukan agen kayak James Bond. Tapi tetap saja Abel ragu.

“Kamu udah mau jadi hantu?” tanya Queensha seraya tersenyum lebar. “Kamu mau ikut aku?”

Mata Abel berbinar. “Mau banget! tapi kata Ten belum boleh.”

Queensha ber-“cuih” mendengar penuturan Abel. “Tuh kan, kamu ngomongin Ten lagi.”

Abel mengerucutkan bibir. “Sumpah deh kalian tuh kenapa sih nggak ada yang percaya ... Ten tuh beneran ada.”

Queensha manggut-manggut. Tangannya mengelus rambut Abel pelan. “Kasihan ... pantas aja kamu mati di umur muda kayak aku.”

“Aku bukan mati gara-gara halusinasi, ya!” protes Abel.

“Cup cup cup. Mendingan sekarang kamu ngapain gitu, nonton sinetron bareng aku, mau? jam delapan malam nanti ada sinetron romantis.”

Abel menggeleng horror. “Nggak, deh. Makasih.”

Queensha melompat turun dari meja operasi. “Ya udah kalo gitu. Kamu jangan kelamaan galau, ya. Cari pacar sana biar gak galau lagi, hihihi.”

Queensha melenggang pergi, menembus pintu ruang operasi, meninggalkan Abel yang mengernyitkan dahi.

Bukannya pacaran malah bikin tambah galau?

Misi Pertama: Terbang ke Korea


“Hai, malaikat ganteng.”

Ten mencebik mendengar sapaan gadis dengan pakaian khas pasien rumah sakit, piyama panjang polos berwarna biru pucat.

“Kamu punya misi pertama.”

“Apaan tuh? jadi pendamping hidup kamu?” goda gadis itu seraya menaikturunkan kedua alisnya.

Cowok berpakaian serba hitam itu menepuk dahi. “Saya aja nggak hidup, Bel.”

“Hidup sih, tapi jadi malaikat, hehe.”

“Iya, malaikat yang bisa bawa kamu kapan aja.”

“Bawa aja sekarang.”

Ten mendelik mendengar gadis itu terus-menerus menyahuti perkataannya. Ia menghela napas sambil menggeleng pelan. “Jangan ngomong gitu, ya, Bel. Kamu tuh belum bisa dibawa pergi. Masih ada misi yang harus diselesaiin.”

Abel manggut-manggut. “Ya udah apa?”

“Terbang ke Korea. Kamu harus menemukan alasan kamu masih hidup di sana.”

“Tapi kan aku udah nggak mau hidup.”

“Abel!” desis Ten tidak sabaran. “Tolong jangan ngomong gitu terus, saya bisa dimarahin bos saya!”

“Hehehe.” Abel yang duduk di tepi meja operasi itu menggoyang-goyangkan kedua kakinya yang telanjang. “Caranya saya ke Korea gimana?”

“Pikir sendiri lah! yang punya misi kan kamu,” omel cowok berkemeja hitam kelam itu. Ia membetulkan letak kacamata berbingkai tipis berwarna senada. “Udah ya, saya banyak kerjaan. Saya pusing kerjaan saya banyak yang terbengkalai karena kamu gangguin terus.”

Abel cengar-cengir. “Yah, itu mah kamunya aja kurang pro jadi malaikat.”

Ten melotot, kemudian memutuskan untuk nggak menyahuti gadis iseng di hadapannya. Ten memutuskan berbalik, kemudian ia pun lenyap ditelan bayang.

image

Blurb


“Kenapa sih lo ngikutin gue terus?”

“Kamu cantik.”

“Gue emang Cantik.”

“Maksudku ... cantik, kata sifat.”

Gadis dengan potongan rambut pendek hampir menyentuh bahu itu menghela napas panjang. Dalam hati, berharap-harap cemas agar bus yang biasa mengantarnya pulang cepat datang. Selain karena sore ini langit mendung ... tapi juga karena ada cowok ini. Cowok yang mengikuti langkahnya ke halte.

“Kenapa sih Cantik, menjauh dari gue terus.”

Cantik melirik cowok berperawakan jangkung di sebelahnya. Oh, udah waras. Nggak aku-kamu lagi.

“Gue jahat. Itu alasannya.”

“Nggak, tuh? Aku lihat kamu kasih makan kucing waktu jam istirahat?”

Cantik mengernyit. “Lo ngikutin gue?”

“Kebetulan aja,” balas cowok berwajah oriental itu sekenanya.

“Intinya, jangan deket-deket gue lagi.”

“Kan kita temen sebangku, Can.”

“Yah, duduk aja. Nggak usah deket-deket.”

Tiba-tiba saja, cowok berambut gondrong itu sedikit membungkuk, mendekatkan wajahnya pada wajah Cantik yang lebih pendek daripada dirinya. Membuat Cantik bergidik dan refleks mundur selangkah. “Ih, apaan sih.”

You're the first person i can talk to in the class.” Yuta berucap, melangkahkan kakinya maju, mendekati Cantik, membuat cewek itu terus melangkah mundur hingga menabrak tiang halte.

Ya that's because i'm the only person who talk in english in the class.”

Yuta manggut-manggut. “Terbukti, cuma kamu doang yang bisa nyambung ngobrol sama aku.”

Cantik berdecak sebal. “Kenapa sih kamu tuh batu banget dibilangin jangan deket-deket.”

Bukannya gentar, Yuta malah senyum-senyum.

Cewek berhidung mancung itu menautkan kedua alisnya. Kayaknya cowok pindahan dari Jepang ini udah sinting.

“Kamu? seneng banget Can kamu ngomong aku-kamu ke aku.” Yuta malah cengar-cengir menggoda.

... Demi apapun, Cantik ingin mendorong Yuta ke selokan saat ini juga. Ia sendiri tanpa sadar ikutan aku-kamu karena Yuta terus bicara aku-kamu.

“Gue serius, ya. Jangan deket-deket gue atau lo bakal nyesel. Gue jahat. Lo tahu sendiri kan gue selalu makan siang sendirian karena nggak punya temen?”

Mendengar intonasi Cantik yang agak berbeda, senyuman Yuta lenyap. Ia menatap Cantik dalam.

Yuta tak menemukan apapun di sana. Binar bahagia, rasa risih dan tidak suka, atau apa pun. Terlalu kosong dan tidak bisa Yuta tebak.

“Kata Bunda gue, orang jahat adalah orang yang nggak bahagia, Can.” Yuta menjeda ucapan sebentar untuk menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa sekarang, karena entah mengapa, tiba-tiba saja dadanya terasa begitu berat kala menyadari bahwa mungkin saja gadis yang ia sukai itu ... tidak bahagia, “jadi, apakah lo merasa nggak bahagia?”

Cantik menelan salivanya dengan susah payah.

Bus yang biasa Cantik tumpangi datang, mengerem tepat di depan halte. Di waktu yang tepat.

Cantik pergi meninggalkan Yuta begitu saja, naik ke atas bus, tanpa pamit, dan tanpa menjawab Yuta lagi.

Dalam hati, ia merutuki hatinya yang begitu payah. Hampir. Hampir saja ia menangis di depan Yuta kala cowok itu menangkapnya basah bahwa ia ... tidak bahagia.

zwölf


Hujan deras mengguyur Jakarta petang itu, kala matahari telah tenggelam sepenuhnya di balik garis horizon. Semburat jingga telah lenyap pula, menyisakan warna hitam-abu-abu pekat tanpa hamparan bintang.

Haidar dan Lana pun memutuskan untuk berteduh di bawah kanopi minimarket, duduk kursi dan meja yang tersedia di emperan toko. Untungnya, masih ada satu spot tersisa.

“Mau minum apa, Lan?” tanya Haidar begitu Lana mendaratkan bokongnya pada salah satu kursi. Haidar melepas ranselnya yang setengah basah karena terkena rintik hujan, meletakkannya di atas meja.

“Air putih aja,” jawab Lana tanpa pikir panjang. Lana memang jarang minum selain air putih.

Sebenarnya Lana suka soda, tapi ia sadar kalau minuman berkarbornasi itu tidak baik untuk kesehatannya. Karenanya ia tidak minum soda. Minuman lain? apa ya ... Lana bingung, ia tidak minum macam-macam.

Cowok berkulit kecoklatan itu melirik ujung-ujung jemari Lana yang pucat, begitu pula wajahnya.

Ia menghela napas, kemudian masuk ke dalam minimarket untuk membeli sesuatu.

Tak lama kemudian, Haidar keluar bersama sebuah nampan berisi sebotol air mineral, dua porsi mi rebus instan dalam cup, serta sebuah gelas kertas berisi kopi.

Lana memindahkan tasnya yang tergeletak tidak sopan di atas meja, kemudian menghidangkan makanan hangat itu di sana. Ia melirik makanan yang Haidar bawa. Astaga ... ia baru sadar kalau belum makan apapun sejak pagi.

“Makan,” perintah Haidar. Ia masuk kembali ke minimarket untuk mengembalikan nampan setelah memindahkan isinya ke atas meja.

Tak lama kemudian, Haidar kembali ke hadapan Lana. Ia melepas jaket denimnya, kemudian menggantungnya di sandaran kursi. “Met makan, Lana.”

Lana menelan salivanya. Aroma mie instan itu semerbak sekali. Perutnya keroncongan. “Thanks, Dar,” kata cewek yang matanya masih sembab itu.

Haidar manggut-manggut. Cowok itu meraih tas yang ia letakkan di bawah, kemudian mengeluarkan lunch box berwarna hijau neon. Brand Taperwer kesayangan ibu-ibu seantero negara. Ia pun membuka tutup lunch box.

“Pake nasi, Lan. Biar kenyang.” Haidar menggeser lunch box ke dekat Lana yang sedang meniup mie-nya dengan sabar.

Lana mengerjap, ia menatap nasi itu dengan dramatis.

“Gue cinta nasi.”

Haidar menatap Lana datar, lalu mendadak berceloteh. “Makan nih, masukin aja nasinya ke dalam cup biar kuahnya cepet dingin. Kalo anget kan lo bisa langsung makan semuanya.”

Lana manggut-manggut. “Hmm.”

Ia memasukkan sedikit dari nasi dingin itu ke dalam cup mie-nya.

“Ini kan bekal sekolah, Dar. Kok nggak dimakan di sekolah?” Lana menyuap nasi lembek dengan garpu plastik.

“Nasi doang, gimana gue mau makan,” jawab Haidar sekenanya. Cowok itu makan dengan cepat. Belum apa-apa, mie di cup-nya sudah tersisa setengah.

“Kan lo bisa beli lauk di kantin,” lanjut Lana seraya menikmati makanannya.

“Bosen gue sama makanan kantin.”

“Kalo gak makan ntar maag, lho,” kata Lana yang notabene punya penyakit maag akut sehingga membuatnya punya banyak pantangan makanan maupun minuman. Merepotkan sekali. Ia tidak ingin orang lain punya penderitaan serupa dengannya.

Haidar menatap Lana datar. “Haduh, serius deh, Lan. Lo pikir gue goblok apa? gue malak makanannya Mark, lah!”

Lana mendelik. “Demi apa sih sumpah lo akhlakless banget.”

“Bekalnya Mark selalu enak, Bundanya rajin masak,” jelas Haidar, “Mark-nya juga ga masalah, jadi ya, bekalnya Mark sharing lah sama gue.”

Lana cuma geleng-geleng kepala sebagai balasan. Kepalanya masih blank karena terlalu lama menangis.

Kemudian hening, hanya terdengar suara derai hujan dan langkah kaki orang yang mulai berdatangan satu per satu, berkerumun memenuhi emperan minimarket.

Gadis dengan rambut pendek yang lepek itu meneguk kuah dari dalam cup. Dalam hati, ia mensyukuri kehadiran Haidar hari ini.

Jangan-jangan, Tuhan tak pernah benar-benar membiarkan Lana sendirian. Jangan-jangan, Lana sejujurnya tak pernah benar-benar 'ingin sendiri' dan pergi.

Jangan-jangan, sebenarnya jauh dalam lubuk hati Lana, ia ingin terbebas dan 'ditemukan'.

Lana bersyukur Haidar datang.

elf


Haidar mengekori Lana, melangkah hati-hati pada jalan setapak yang hanya cukup untuk satu orang, sehingga mau tidak mau mereka harus berjalan depan belakang. Di depannya, entah sudah ke berapa kali Haidar mendengar helaan napas Lana. Barangkali Lana juga tidak sadar kalau helaan napasnya terdengar sekeras itu.

Pada akhirnya, Lana tidak mengiyakan ketika Haidar memaksa ikut, pun tidak menolak.

Setelah berjalan agak jauh dan berbelok di beberapa persimpangan, Lana berhenti di samping salah satu batu nisan. Berjongkok di sebelah batu nisan itu.

————————————————————— R.I.P

Madeline

Lahir: Surabaya, 7 Agustus 19xx Wafat: Jakarta, 18 Juli 20xx —————————————————————

Haidar membeku.

18 Juli, itu hampir empat bulan yang lalu.

Dengan kata lain, bersamaan dengan menghilangnya Lana dari perpustakaan yang biasa mereka kunjungi.

Haidar duduk di sebelah Lana, di atas tanah permakaman. Menatap gadis yang ikut duduk di sebelahnya, tengah menatap batu nisan itu dengan tatapan yang sulit Haidar artikan.

Keduanya sama-sama diam tidak bersuara. Permakaman itu sepi sekali. Bahkan tidak sedikit pun terdengar suara serangga maupun burung.

“Dar.”

Haidar langsung memerhatikan dengan serius begitu Lana bersuara.

“Bisa balik badan gak?”

Haidar mengerjap kebingungan.

“Gue mau nangis.”

Haidar mengangguk, ia menuruti Lana, berbalik ke arah yang berlawanan agar gadis itu bisa menangis sepuasnya.

Tak lama kemudian, mulai terdengar isak tangis Lana.

“Bunda, maafin Lana ...,” ucap Lana lirih, pandangannya memburam, ia bahkan tak dapat melihat nama Bunda yang tercetak di atas batu nisan, “maaf Lana masih suka kangen sama Bunda, maaf prestasi Lana di sekolah merosot. Maaf Lana belum bisa jadi anak yang kuat. Maaf—”

Detik berikutnya, Lana merasa dirinya direngkuh ke dalam sebuah pelukan yang begitu hangat.

Dan tangis yang ia tahan selama beberapa bulan terakhir pun semakin deras.

zehn


Sepasang muda-mudi itu pun sampai di tempat tujuan. Haidar memelankan laju motornya, kemudian memarkir motornya di tempat parkir yang hanya cukup untuk dua mobil berhimpitan atau beberapa motor. Parkiran itu kosong melompong. Sepertinya sore ini hanya merekalah pengunjung tempat ini.

Gadis yang rambut pendeknya dikuncir half up itu—sama seperti rambut Haidar di balik helm—langsung turun dari boncengan motor besar Haidar. Ia turun dengan hati-hati mengingat motor itu lumayan tinggi, dan ia belum pernah dibonceng dengan motor semacam ini.

Sementara itu, rasanya saat ini kerongkongan Haidar mengering. Untuk menelan saliva saja rasanya nyeri, dan jantungnya kini berdebar-debar.

“Lo langsung balik aja, Dar. Gue kayaknya lama,” kata Lana. Cewek itu merapatkan denimnya, lalu memandang awan kelabu yang bergelantungan di angkasa. “Kayaknya mau ujan juga.”

“Terus lo gimana?”

“Gampang,” kata Lana, “udah sana pulang.”

Haidar menghela napas. Cowok itu melepas helm, kemudian menyangkutkan helmnya di kaca spion. Turun dari motor. “Nggak, ah. Gue nanti aja. Mau ikut.”

“Dih, ngapain. Udah sana.” Lana mengibaskan tangannya, gestur mengusir agar Haidar pulang.

Haidar menggeleng. “Nggak, lo gak takut apa ke sini sore-sore. Sepi.”

“Justru gue takut karena bareng lo di tempat sepi.” Lana tertawa pelan, yang bagi Haidar, justru terlihat seolah menyembunyikan kesedihan di balik matanya.

Haidar tadinya mau protes, tapi tidak bisa. Tidak di tempat ini. Rasa kesalnya kalah oleh rasa sedih yang entah mengapa ikut hinggap di hatinya. Ia bahkan tidak mengerti kenapa dadanya terasa nyeri.

Ia memutuskan untuk menanggapi Lana secara bercanda, seperti biasanya. “Anjir, emangnya gue kenapa?”

Lana menghela napas pelan. “Sana, Dar. Serius. Gue mau sendiri.”

Haidar menatap gadis di hadapannya dalam. Menyelam dalam iris cokelat Lana.

“Tapi, mata lo bilang kalau lo nggak mau sendiri, Alana.”