
elf
Haidar mengekori Lana, melangkah hati-hati pada jalan setapak yang hanya cukup untuk satu orang, sehingga mau tidak mau mereka harus berjalan depan belakang. Di depannya, entah sudah ke berapa kali Haidar mendengar helaan napas Lana. Barangkali Lana juga tidak sadar kalau helaan napasnya terdengar sekeras itu.
Pada akhirnya, Lana tidak mengiyakan ketika Haidar memaksa ikut, pun tidak menolak.
Setelah berjalan agak jauh dan berbelok di beberapa persimpangan, Lana berhenti di samping salah satu batu nisan. Berjongkok di sebelah batu nisan itu.
————————————————————— R.I.P
Madeline
Lahir: Surabaya, 7 Agustus 19xx Wafat: Jakarta, 18 Juli 20xx —————————————————————
Haidar membeku.
18 Juli, itu hampir empat bulan yang lalu.
Dengan kata lain, bersamaan dengan menghilangnya Lana dari perpustakaan yang biasa mereka kunjungi.
Haidar duduk di sebelah Lana, di atas tanah permakaman. Menatap gadis yang ikut duduk di sebelahnya, tengah menatap batu nisan itu dengan tatapan yang sulit Haidar artikan.
Keduanya sama-sama diam tidak bersuara. Permakaman itu sepi sekali. Bahkan tidak sedikit pun terdengar suara serangga maupun burung.
“Dar.”
Haidar langsung memerhatikan dengan serius begitu Lana bersuara.
“Bisa balik badan gak?”
Haidar mengerjap kebingungan.
“Gue mau nangis.”
Haidar mengangguk, ia menuruti Lana, berbalik ke arah yang berlawanan agar gadis itu bisa menangis sepuasnya.
Tak lama kemudian, mulai terdengar isak tangis Lana.
“Bunda, maafin Lana ...,” ucap Lana lirih, pandangannya memburam, ia bahkan tak dapat melihat nama Bunda yang tercetak di atas batu nisan, “maaf Lana masih suka kangen sama Bunda, maaf prestasi Lana di sekolah merosot. Maaf Lana belum bisa jadi anak yang kuat. Maaf—”
Detik berikutnya, Lana merasa dirinya direngkuh ke dalam sebuah pelukan yang begitu hangat.
Dan tangis yang ia tahan selama beberapa bulan terakhir pun semakin deras.