eins


Selama tiga puluh tahun hidupnya, Shanina selalu jadi gadis paling biasa-biasa saja. Di antara sekumpulan teman-teman SMP-nya yang cantik-cantik pun, Shanina yang cantik kelihatan biasa saja. Jadi tukang titip hadiah atau mak comblang seolah sudah menjadi suatu hal yang melekat dalam kehidupan Shanina.

Drrrt. Drrrt. Drrrt.

Gadis berperawakan semampai yang baru saja keluar dari sebuah kantor penerbitan itu mengeluarkan ponsel dari dalam inside pocket jaketnya, mendapati nama seseorang yang begitu familiar selama dua tahun belakangan muncul di layar ponsel.

Pip.

“Halo?”

“Na, udah selesai kerja? Lembur lagi?”

“Udah.”

“Boleh minta tolong ambilin gitar di apartemen gue, nggak?”

“Boleh.”

“Siiip, di kamar gue ya, tas item deket lampu.”

“Oke.”

“Dianter ke studio, abis ini gue share location.”

“Oke.”

“Udah makan?”

Shanina mengerjap, nggak biasanya cowok ini bertanya di luar kebutuhannya.

“U—”

“Eh, gue mau rekaman. Lo dateng aja deh, ya. Thanks, Na.”

Shanina menghela napas. Belum sempat ia menyahut, sambungan telah diputus secara sepihak. Ia pun memasukkan ponselnya kembali ke dalam inside pocket jaket denim kesayangannya. Namun, sebelum ponselnya tersimpan manis di dalam sana, lagi-lagi ponselnya bergetar.

Jaemin lagi.

“Hal—”

“Lo ke sini naik apa?”

“Biasa.”

“Leo?”

“Iya.”

“Oh. Ya udah, hati-hati.”

“Oke.”

Dengan begitu, telepon diputus begitu saja. Shanina pun melangkahkan kaki ke basement, menghampiri motor besar yang berwarna hitam doff. Kemudian, segera berangkat menuju apartemen Jaemin.