zehn


Sepasang muda-mudi itu pun sampai di tempat tujuan. Haidar memelankan laju motornya, kemudian memarkir motornya di tempat parkir yang hanya cukup untuk dua mobil berhimpitan atau beberapa motor. Parkiran itu kosong melompong. Sepertinya sore ini hanya merekalah pengunjung tempat ini.

Gadis yang rambut pendeknya dikuncir half up itu—sama seperti rambut Haidar di balik helm—langsung turun dari boncengan motor besar Haidar. Ia turun dengan hati-hati mengingat motor itu lumayan tinggi, dan ia belum pernah dibonceng dengan motor semacam ini.

Sementara itu, rasanya saat ini kerongkongan Haidar mengering. Untuk menelan saliva saja rasanya nyeri, dan jantungnya kini berdebar-debar.

“Lo langsung balik aja, Dar. Gue kayaknya lama,” kata Lana. Cewek itu merapatkan denimnya, lalu memandang awan kelabu yang bergelantungan di angkasa. “Kayaknya mau ujan juga.”

“Terus lo gimana?”

“Gampang,” kata Lana, “udah sana pulang.”

Haidar menghela napas. Cowok itu melepas helm, kemudian menyangkutkan helmnya di kaca spion. Turun dari motor. “Nggak, ah. Gue nanti aja. Mau ikut.”

“Dih, ngapain. Udah sana.” Lana mengibaskan tangannya, gestur mengusir agar Haidar pulang.

Haidar menggeleng. “Nggak, lo gak takut apa ke sini sore-sore. Sepi.”

“Justru gue takut karena bareng lo di tempat sepi.” Lana tertawa pelan, yang bagi Haidar, justru terlihat seolah menyembunyikan kesedihan di balik matanya.

Haidar tadinya mau protes, tapi tidak bisa. Tidak di tempat ini. Rasa kesalnya kalah oleh rasa sedih yang entah mengapa ikut hinggap di hatinya. Ia bahkan tidak mengerti kenapa dadanya terasa nyeri.

Ia memutuskan untuk menanggapi Lana secara bercanda, seperti biasanya. “Anjir, emangnya gue kenapa?”

Lana menghela napas pelan. “Sana, Dar. Serius. Gue mau sendiri.”

Haidar menatap gadis di hadapannya dalam. Menyelam dalam iris cokelat Lana.

“Tapi, mata lo bilang kalau lo nggak mau sendiri, Alana.”