nakyu

fiction is a basic need

acht


Kriiing!

Bel berdering, pertanda jam pelajaran telah usai. Hari yang melelahkan telah usai, Haidar tidak sabar mau pulang.

“Baik, sekian pelajaran hari ini. Selamat sore.” Bu Andini mengakhiri jam pelajaran Kimia.

“Terima kasih, Buuuu!” seru Haidar dari belakang. Cowok berseragam putih abu-abu, seragam hari Jumat, itu tersenyum lebar pada gurunya.

Haidar memang terkenal sebagai anak yang supel dan ramah pada semua orang. Temannya ada dimana-mana, mulai dari yang seumuran, adik kelas, kakak kelas, bahkan sampai guru-guru pun akrab dengan Haidar.

Wanita paruh baya berwajah oriental itu menatap Haidar tajam, ia membetulkan kacamatanya yang merosot. “Haidar, ibu mau bicara sebentar sama kamu.”

“Siap, Bu. Maaf Bu, bentar saya beresin ini dulu.” Haidar buru-buru memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. Sebenarnya Haidar cuma bawa satu buku tulis ke sekolah. Semua LKS dan buku paketnya ditinggal di loker kelas.

Usai memasukkan buku tulis dan sebatang pulpen ke dalam tas, ia menghampiri Bu Andini.

Sementara itu beberapa siswa-siswi berpamitan, pulang terlebih dahulu.

Haidar masih tinggal di kelas bersama Bu Andini.

“Kenapa ya, Bu?” tanya Haidar sopan.

“Saya perhatikan belakangan ini nilai Kimia-mu bagus.”

Haidar dapat melihat sorot curiga dari mata Bu Andini. Ia menelan salivanya dengan susah payah. Meski begitu, sebisa mungkin ia tidak terlihat gugup. “Ya, alhamdulillah Bu.”

Wanita berseragam dinas itu menatap Haidar dari atas sampai bawah, berakhir pada manik mata Haidar yang dibuat se-innocent mungkin.

“Pertahankan sampai UN nanti.”

Haidar menyengir lebar, ia mengangguk-angguk. “Siap, Bu. Pasti bisa.”

Bu Andini hanya memutar bola mata, kemudian pergi keluar meninggalkan anak muridnya yang satu itu.

Senyuman di wajah Haidar langsung luntur begitu Bu Andini menghilang di balik tikungan koridor, tergantikan oleh rutukan pelan. “Anjing, jangan sampe gue ketahuan nge-joki.”

sieben


Haidar menyeruput kopi hitam dari gelas belimbing yang biasa ibu-ibu dapatkan sebagai bonus pembelian sabun cuci piring. Ia duduk di salah satu bangku panjang di warung depan sekolah bersama sepiring besar gorengan hangat beserta rawitnya.

“Woi!” seseorang menepuk bahu Haidar, berniat mengangetkan cowok berseragam pramuka itu. Namun gagal, cowok itu melakukan hal yang sama setiap pagi sampai Haidar tidak perlu menoleh lagi untuk tahu siapa yang menepuk bahunya disertai suara bariton yang sama sekali tidak mengagetkannya.

“Hahahaha.” Cowok pindahan dari Kanada yang sudah tiga tahun berteman dengan Haidar itu tertawa, entah apa yang lucu. Ia duduk di sebelah temannya, mengambil permen kis dari dalam toples.

“Nyarap dulu, Mark,” ujar Haidar sambil mengunyah tahu isi.

Mark menggeleng. “Aku udah sarapan di rumah.”

Haidar melotot. “Gue. Gue. G. U. E. Gue,” ia mengeja huruf demi huruf, “jangan aku-kamu please nanti gue dikira homo sama lo.”

Mark terkekeh geli. “Okay, okay. Sorry.

Cowok yang setengah rambut gondrongnya dikuncir itu manggut-manggut serupa bapak-bapak yang hobi nangkring di warkop sambil ngebon kemudian pergi dengan kondisi perut kenyang dan kembung, kebanyakan makan gorengan.

“Gimana, Lana udah bolehin lo ngasih nomornya ke gue belum?” Mark bertanya dengan wajah penuh harap, membuat Haidar kadang kasihan kenapa temannya yang satu ini suka sekali pada gadis bernama Alana itu.

“Ga boleh katanya, dia ngancem gak mau bantuin gue design kalo gue kasih nomornya ke lo,” jawab Haidar. Jawaban yang sama selama sebulan terakhir.

Mark selalu bertanya hal yang sama meski sudah tahu jawaban Haidar pagi ini, atau esok pagi, tapi tetap saja ... ia berharap ada keajaiban yang membuat Lana mengizinkan Haidar memberikan nomor teleponnya pada dirinya.

“Lo chat aja sih di twitter. Kan lo follow dia,” komentar Haidar kemudian, meraih gorengan ketiganya pagi ini.

Mark melotot. “Nggak bisa gitu dong!”

Haidar menatap Mark geregetan. “Apanya lagi sih Mark yang nggak bisa. Kalo lo suka tuh ya kejar! jangan diem-diem aja kaya gini.”

Mark menatap gorengan panas di atas meja dengan nelangsa. “Nggak mau, Dar. Lana orangnya nggak suka diganggu.”

“Terus gimana hubungan lo mau maju kalo pdkt aja nggak bisa,” kata Haidar tandas, disusul dering bel yang terdengar sampai keluar gerbang sekolah.

“WEH, UDAH BEL WOI. NIKMAT BANGET GORENGANNYA GAK SADAR GUE UDAH WAKTUNYA MASUK. MARK. LARI MARK.” Haidar heboh sendiri kala melihat Pak Satpam sudah ancang-ancang hendak menutup kedua belah pintu gerbang. “BAPAAAK! TUNGGU!”

Mark belum sempat membalas ucapan Haidar, pagi itu lagi-lagi ia terpaksa berlari menyebrangi jalanan demi bisa melewati gerbang sekolah dengan tepat waktu.

Keduanya sampai di dalam sekolah dengan selamat, menyusup dengan gesit di antara kedua belah gerbang yang tinggal beberapa inci lagi tertutup rapat.

Haidar kemudian menepuk dahi. “Gue lupa bayar gorengan!”

Cowok berambut hitam legam dengan seragam rapi itu menatap Haidar datar. “Kebiasaan banget sih lo.”

Haidar mengernyit tidak terima mendengar kata “kebiasaan” meski ya, itu memang fakta, Haidar biasanya baru bayar nanti kalau sudah pulang sekolah.

“Mulut lo wangi, Mark,” sindir Haidar kemudian, berjalan mendahului Mark ke kelas.

Mark mendelik. Oh iya, dia juga lupa bayar permen.

vier


“Lo inget gak, pernah jadi panita cup waktu SMP? gue waktu itu ikut lomba futsal di sana. Gue dari SMP Avicenna.”

Lana dan Haidar duduk di salah satu sisi perpustakaan, di dekat jendela. Lana duduk dengan kaku, sementara Haidar tampak lebih rileks.

“Gue temennya Mark. Inget Mark nggak? cowok yang deketin lo dulu.”

Lana mengernyit.

“Maaf, yang deketin gue pas jaman jadi panitia nggak cuma Mark. Gue lupa,” kata Lana datar, terdengar seperti flexing meski sebenarnya maksudnya tidak begitu.

Haidar menganga mendengar reaksi Lana yang terdengar songong. Ia menghela napas. “Oke ... katakanlah yang deketin lo banyak, intinya Mark ini yang cowok dari Kanada itu.”

Lana ber-oh ria. Sekarang dia ingat. Oh, si bule jadi-jadian itu.

“Oh ... oke, kenapa lo nyariin gue?”

Haidar mengeluarkan macbook dari dalam backpack-nya, lalu meletakkannya di meja. Lana sedikit terkejut karena bisa-bisanya Haidar menyimpan laptop mahal itu dengan sembrono.

Ya, buat Lana, macbook itu mahal.

“Jadi gini, angkatan gue mau ngadain cup juga. Terus kata Mark, lo dulu dari divisi design dan design lo bagus-bagus. Dia nunjukin layout design cup lo dulu di instagram. Lo mau bantuin gue gak?”

... Ini kan acara sekolah lain, kenapa harus minta tolong sama Lana?

“Kenapa minta tolong sama gue,” tanya Lana dengan nada pernyataan, bukannya pertanyaan.

“Karena yang ngelamar divisi design buat acara angkatan semuanya cewek,” jelas Haidar.

“Terus kalo cewek kenapa? selama punya skill ya bagus,” kata Lana lagi.

“Mereka nggak punya skill, mereka mau gabung divisi design cuma karena ada gue,” jelas Haidar sambil menyugar rambutnya, menatap Lana serius.

... Idih. Cowok ini pikir dia ganteng?

“Lo berasa ganteng banget apa ya ngomong gini,” ceplos Lana sambil geleng-geleng heran.

Lebih heran lagi karena tidak biasanya Lana bisa ceplas-ceplos, apalagi pada orang yang baru ditemuinya sekali.

Cowok yang mengenakan kaos hitam polos dan skinny jeans berwarna senada itu berdehem. “Gue emang ganteng, btw.”

Lana bergidik. Ada ya, orang sedemikian pedenya.

“Apapun itu, please bantuin gue, Lan. Gue udah ngerekrut anak-anak yang jago desain dari angkatan gue, semuanya nggak ada yang mau. Malah mau fokus belajar buat SBM. Padahal SBM kan masih tahun depan.” Haidar memohon—lebih ke mendesak sih daripada memohon.

Lana tadinya mau menolak dengan alasan yang sama, mau belajar buat SBMPTN, karena bagaimanapun, dihitung-hitung waktu mereka sampai ke SBMPTN tahun depan kan tidak sampai setahun.

Tapi setelah Lana pikir lagi, ini bisa jadi lahan bisnis baru.

“Ekhem, desain gue gak gratis.”

Lana sang budak kapitalis.

“Cih,” Haidar berdecih, “berapa bayaran lo? sebut aja.”

“Gue dibayar per-desain yang gue buat, dan karena ini bakal jadi event besar ... ya, harganya nggak mungkin nggak besar juga dong, ya.”

“Gampang. Kalo gitu sekarang kita tukeran kontak dulu gimana?”

”... Gimana kalo lo orang jahat?” ceplos Lana, baru terpikirkan kemungkinan itu.

“Lo udah ngobrol sama gue setengah jam dan baru kepikiran kemungkinan orang jahat?”

Lana manggut-manggut. “Gue rasa bukan.”

“Emang bukan.” Haidar berdecak sebal, memangnya ia bertampang kriminal? wajah ganteng begini dibilang orang jahat. “Nih nomor gue.”

Usai menyimpan nomor satu sama lain, Lana bangkit dari posisi duduknya.

“Udah kan?”

Haidar mengangguk. “Udah.”

“Oke, gue balik duluan, ya.”

Haidar mengangguk lagi. “Hati-ha—tunggu.”

Langkah Lana tertahan. Ia menatap Haidar dengan tatapan bertanya.

“Lo ... kemana aja selama hampir dua bulan? biasanya gue selalu lihat lo duduk di sana.” Haidar menunjuk sudut perpustakaan yang sepi. “Duduk di tempat yang kata orang-orang berhantu.”

Lana mendelik. Berhantu?

Lana tidak tahu spot itu dikabarkan berhantu. Ia juga nggak pernah merasakan keanehan selama duduk di sana selain ya, memang, di sana selalu lebih sepi daripada spot lain. Tapi justru itu yang membuatnya semakin nyaman belajar di sana.

“Kok lo ngitungin kalo gue ngilang dua bulan? Terus, kok ... lo merhatiin gue? gue aja gak pernah sadar ada lo di sini.” Lana malah balik tanya.

Haidar menghela napas panjang. “Bukan gue,” kemudian Haidar menunjuk ke arah pintu kaca perpustakaan yang baru saja terbuka karena ada orang yang masuk.

Seorang cowok berwajah blasteran tengah bersandar di salah satu pilar. Sambil melamun, menatap orang-orang yang lalu lalang. “Temen gue masih gagal move on sejak kelas sembilan.”

Lana mengernyit. Mark?

”... oh.” Lana bingung harus bereaksi seperti apa. “Salam buat temen lo.”

'NGOMONG APA LO ALANA KALANI?' Lana memarahi dirinya sendiri dalam hati.

“Gue pulang, dah.”

Haidar manggut-manggut. “Bye, partner. Nanti gue chat.”

Lana mengacungkan jempol.

“Kalo nomor lo gue kasih Mark, boleh?”

Lana yang tadinya sudah beberapa langkah meninggalkan Haidar, jadi balik lagi.

“Jangan-jangan cup sekolah cuma alibi, ya? lo cuma bantuin temen lo modus?”

Haidar gelagapan. “Heh, nggak! enak aja, lo. Proyek penting nih cup sekolah. Beneran!”

Lana melirik Haidar sinis, kemudian berjalan keluar dari perpustakaan tanpa bilang apa-apa lagi.

Di belakang Lana, seorang cowok berwajah blasteran yang tadinya bersandar pada salah satu pilar langsung berdiri tegak, mengamati punggung Lana yang kian lama kian menjauh, hingga menghilang pada belokan menuju halte.

Prolog


🔴 [camera: on]

”...”

“Ngomong, dong!” bisik Aya, berdiri di balik tripod kamera.

“Udah record?” wanita cantik berusia nyaris kepala tiga itu tampak bingung. Ia duduk di atas bangku kayu tinggi tanpa sandaran dengan latar belakang warna putih.

Aya mengangguk cepat.

“Oh, oke oke.” Wanita itu malah manggut-manggut dulu, baru kemudian biacara, “halo, Haidar.”

Tiba-tiba saja dadanya terasa nyeri dan entah mengapa, rasanya ia mau menangis.

“Gue, Alana Kalani, udah bareng sama Haidar selama kurang lebih sebelas tahun. Gue mau bilang ... makasih udah hadir di hidup gue. Lana sayang Haidar.”

Kemudian, Aya, si cameraman, terpaksa menghentikan rekaman karena Lana tak mampu membendung tangisnya.

drei


“Terima kasih.” Penjaga perpustakaan itu semringah begitu Lana usai mengembalikan buku beserta dendanya.

“Terima kasih kembali,” sahut Lana sekenanya, merelakan selembar uang seratus ribu yang ia dapatkan dari hasil commission semalam.

Jadi ceritanya, Lana berhasil mendapatkan seratus ribu karena semalam ia open commission di twitter. Ia bersyukur sekali Tuhan menitipkan rezeki melalui para bucin yang mau menggambar wajah pacar mereka untuk hadiah anniversary.

Gadis yang mengenakan rok rempel abu-abu yang agak ngatung dan kemeja putih dibalut jaket denim itu menyapukan pandangan ke seisi perpustakaan yang sudah lama tak dikunjunginya.

Semuanya masih sama. Mahasiswa keluar-masuk, duduk, belajar bersama, nugas sendirian, dan lain-lain.

Lana kangen nongkrong di perpustakaan selama berjam-jam.

“Permisi.” Seseorang menyolek bahu Lana pelan, membuat gadis berambut pendek itu menoleh.

“Ya?” sahut Lana, menatap lelaki berambut cokelat dengan potongan agak gondrong yang barusan memanggilnya. Di punggungnya terdapat backpack hitam.

“Alana, ya?” tanya cowok itu dengan mata yang berbinar-binar.

Lana terkejut. “... eh, iya. Siapa ya?”

Cowok itu menyengir lebar. “Gue Haidar, temennya Mark.”

Lana tampak kebingungan. Siapa? ia tidak ingat punya kenalan bernama Mark atau Haidar.

“Gimana kalo kita ngobrol bentar sambil duduk? kebetulan gue nyariin lo sejak beberapa hari lalu.”

zwei


Drrrt. Drrrt. Drrrt.

“Halo?” gadis itu mengangkat telepon.

“Selamat malam, dengan Alana Kalani?”

“Ya, betul. Saya sendiri.”

“Saya dari perpustakaan kampus, mau mengingatkan kalau kamu belum mengembalikan buku yang terakhir kamu pinjam. Karena keterlambatan pengembalian buku, Kak Alana dikenakan denda. Bagaimana? mau dikembalikan kapan?”

Lana mengerjap. Buku yang mana?

“Buku Master Your Emotion karya Thibaut Meurisse,” kata suara di seberang sambungan seolah membaca pikiran Lana.

Lana melirik buku yang tergeletak di atas kasur. Buku yang baru sempat ia baca setengahnya.

Oh iya, itu buku perpustakaan, ya. Ia lupa kalau pengembalian buku maksimal seminggu setelah dipinjam. Bisa saja sih dipinjam dua minggu, tiga minggu, atau lebih. Tapi tetap saja, Alana harus pergi ke sana seminggu sekali. Untuk “memperbaharui kontrak” peminjaman buku

“Besok saya kembalikan,” jawab Lana, “mohon maaf sebelumnya, dendanya berapa ya?”

“Seratus ribu, Kak.”

... oke.

“Oooh, oke. Terima kasih,” balas Lana sekenanya.

“Baik, terima kasih atas waktunya ya, Kak. Selamat malam.”

Kemudian sambungan terputus, dan Lana mau tidak mau terpaksa memutar otak. Darimana ia dapatkan seratus ribu dalam semalam?

eins


Gadis belia berusia enam belas tahun itu belajar sendirian di perpustakaan kampus yang tak jauh dari rumahnya. Ia belajar dengan tekun demi masuk kampus yang menaungi perpustakaan ini.

Setidaknya, terlihat begitu. Ia terlihat tekun.

Setiap minggu, ia selalu datang ke sana dan belajar pada sore hari, kemudian pulang menjelang petang.

Mahasiswa di sana selalu meliriknya aneh karena ia kerap datang dengan seragam SMA, namun, masa bodoh. Ia tetap datang ke sana. Meski ia harus menyisihkan sebagian uang jajannya untuk tiket masuk.

Kebiasaan belajarnya itu berlangsung selama sebulan penuh, ia selalu datang paling tidak tiga kali dalam seminggu.

Hingga pada suatu saat, sesuatu terjadi, dan ia tak pernah terlihat lagi di perpustakaan.