zwei


Drrrt. Drrrt. Drrrt.

“Halo?” gadis itu mengangkat telepon.

“Selamat malam, dengan Alana Kalani?”

“Ya, betul. Saya sendiri.”

“Saya dari perpustakaan kampus, mau mengingatkan kalau kamu belum mengembalikan buku yang terakhir kamu pinjam. Karena keterlambatan pengembalian buku, Kak Alana dikenakan denda. Bagaimana? mau dikembalikan kapan?”

Lana mengerjap. Buku yang mana?

“Buku Master Your Emotion karya Thibaut Meurisse,” kata suara di seberang sambungan seolah membaca pikiran Lana.

Lana melirik buku yang tergeletak di atas kasur. Buku yang baru sempat ia baca setengahnya.

Oh iya, itu buku perpustakaan, ya. Ia lupa kalau pengembalian buku maksimal seminggu setelah dipinjam. Bisa saja sih dipinjam dua minggu, tiga minggu, atau lebih. Tapi tetap saja, Alana harus pergi ke sana seminggu sekali. Untuk “memperbaharui kontrak” peminjaman buku

“Besok saya kembalikan,” jawab Lana, “mohon maaf sebelumnya, dendanya berapa ya?”

“Seratus ribu, Kak.”

... oke.

“Oooh, oke. Terima kasih,” balas Lana sekenanya.

“Baik, terima kasih atas waktunya ya, Kak. Selamat malam.”

Kemudian sambungan terputus, dan Lana mau tidak mau terpaksa memutar otak. Darimana ia dapatkan seratus ribu dalam semalam?