
sieben
Haidar menyeruput kopi hitam dari gelas belimbing yang biasa ibu-ibu dapatkan sebagai bonus pembelian sabun cuci piring. Ia duduk di salah satu bangku panjang di warung depan sekolah bersama sepiring besar gorengan hangat beserta rawitnya.
“Woi!” seseorang menepuk bahu Haidar, berniat mengangetkan cowok berseragam pramuka itu. Namun gagal, cowok itu melakukan hal yang sama setiap pagi sampai Haidar tidak perlu menoleh lagi untuk tahu siapa yang menepuk bahunya disertai suara bariton yang sama sekali tidak mengagetkannya.
“Hahahaha.” Cowok pindahan dari Kanada yang sudah tiga tahun berteman dengan Haidar itu tertawa, entah apa yang lucu. Ia duduk di sebelah temannya, mengambil permen kis dari dalam toples.
“Nyarap dulu, Mark,” ujar Haidar sambil mengunyah tahu isi.
Mark menggeleng. “Aku udah sarapan di rumah.”
Haidar melotot. “Gue. Gue. G. U. E. Gue,” ia mengeja huruf demi huruf, “jangan aku-kamu please nanti gue dikira homo sama lo.”
Mark terkekeh geli. “Okay, okay. Sorry.“
Cowok yang setengah rambut gondrongnya dikuncir itu manggut-manggut serupa bapak-bapak yang hobi nangkring di warkop sambil ngebon kemudian pergi dengan kondisi perut kenyang dan kembung, kebanyakan makan gorengan.
“Gimana, Lana udah bolehin lo ngasih nomornya ke gue belum?” Mark bertanya dengan wajah penuh harap, membuat Haidar kadang kasihan kenapa temannya yang satu ini suka sekali pada gadis bernama Alana itu.
“Ga boleh katanya, dia ngancem gak mau bantuin gue design kalo gue kasih nomornya ke lo,” jawab Haidar. Jawaban yang sama selama sebulan terakhir.
Mark selalu bertanya hal yang sama meski sudah tahu jawaban Haidar pagi ini, atau esok pagi, tapi tetap saja ... ia berharap ada keajaiban yang membuat Lana mengizinkan Haidar memberikan nomor teleponnya pada dirinya.
“Lo chat aja sih di twitter. Kan lo follow dia,” komentar Haidar kemudian, meraih gorengan ketiganya pagi ini.
Mark melotot. “Nggak bisa gitu dong!”
Haidar menatap Mark geregetan. “Apanya lagi sih Mark yang nggak bisa. Kalo lo suka tuh ya kejar! jangan diem-diem aja kaya gini.”
Mark menatap gorengan panas di atas meja dengan nelangsa. “Nggak mau, Dar. Lana orangnya nggak suka diganggu.”
“Terus gimana hubungan lo mau maju kalo pdkt aja nggak bisa,” kata Haidar tandas, disusul dering bel yang terdengar sampai keluar gerbang sekolah.
“WEH, UDAH BEL WOI. NIKMAT BANGET GORENGANNYA GAK SADAR GUE UDAH WAKTUNYA MASUK. MARK. LARI MARK.” Haidar heboh sendiri kala melihat Pak Satpam sudah ancang-ancang hendak menutup kedua belah pintu gerbang. “BAPAAAK! TUNGGU!”
Mark belum sempat membalas ucapan Haidar, pagi itu lagi-lagi ia terpaksa berlari menyebrangi jalanan demi bisa melewati gerbang sekolah dengan tepat waktu.
Keduanya sampai di dalam sekolah dengan selamat, menyusup dengan gesit di antara kedua belah gerbang yang tinggal beberapa inci lagi tertutup rapat.
Haidar kemudian menepuk dahi. “Gue lupa bayar gorengan!”
Cowok berambut hitam legam dengan seragam rapi itu menatap Haidar datar. “Kebiasaan banget sih lo.”
Haidar mengernyit tidak terima mendengar kata “kebiasaan” meski ya, itu memang fakta, Haidar biasanya baru bayar nanti kalau sudah pulang sekolah.
“Mulut lo wangi, Mark,” sindir Haidar kemudian, berjalan mendahului Mark ke kelas.
Mark mendelik. Oh iya, dia juga lupa bayar permen.