
drei
“Terima kasih.” Penjaga perpustakaan itu semringah begitu Lana usai mengembalikan buku beserta dendanya.
“Terima kasih kembali,” sahut Lana sekenanya, merelakan selembar uang seratus ribu yang ia dapatkan dari hasil commission semalam.
Jadi ceritanya, Lana berhasil mendapatkan seratus ribu karena semalam ia open commission di twitter. Ia bersyukur sekali Tuhan menitipkan rezeki melalui para bucin yang mau menggambar wajah pacar mereka untuk hadiah anniversary.
Gadis yang mengenakan rok rempel abu-abu yang agak ngatung dan kemeja putih dibalut jaket denim itu menyapukan pandangan ke seisi perpustakaan yang sudah lama tak dikunjunginya.
Semuanya masih sama. Mahasiswa keluar-masuk, duduk, belajar bersama, nugas sendirian, dan lain-lain.
Lana kangen nongkrong di perpustakaan selama berjam-jam.
“Permisi.” Seseorang menyolek bahu Lana pelan, membuat gadis berambut pendek itu menoleh.
“Ya?” sahut Lana, menatap lelaki berambut cokelat dengan potongan agak gondrong yang barusan memanggilnya. Di punggungnya terdapat backpack hitam.

“Alana, ya?” tanya cowok itu dengan mata yang berbinar-binar.
Lana terkejut. “... eh, iya. Siapa ya?”
Cowok itu menyengir lebar. “Gue Haidar, temennya Mark.”
Lana tampak kebingungan. Siapa? ia tidak ingat punya kenalan bernama Mark atau Haidar.
“Gimana kalo kita ngobrol bentar sambil duduk? kebetulan gue nyariin lo sejak beberapa hari lalu.”