
vier
“Lo inget gak, pernah jadi panita cup waktu SMP? gue waktu itu ikut lomba futsal di sana. Gue dari SMP Avicenna.”
Lana dan Haidar duduk di salah satu sisi perpustakaan, di dekat jendela. Lana duduk dengan kaku, sementara Haidar tampak lebih rileks.
“Gue temennya Mark. Inget Mark nggak? cowok yang deketin lo dulu.”
Lana mengernyit.
“Maaf, yang deketin gue pas jaman jadi panitia nggak cuma Mark. Gue lupa,” kata Lana datar, terdengar seperti flexing meski sebenarnya maksudnya tidak begitu.
Haidar menganga mendengar reaksi Lana yang terdengar songong. Ia menghela napas. “Oke ... katakanlah yang deketin lo banyak, intinya Mark ini yang cowok dari Kanada itu.”
Lana ber-oh ria. Sekarang dia ingat. Oh, si bule jadi-jadian itu.
“Oh ... oke, kenapa lo nyariin gue?”
Haidar mengeluarkan macbook dari dalam backpack-nya, lalu meletakkannya di meja. Lana sedikit terkejut karena bisa-bisanya Haidar menyimpan laptop mahal itu dengan sembrono.
Ya, buat Lana, macbook itu mahal.
“Jadi gini, angkatan gue mau ngadain cup juga. Terus kata Mark, lo dulu dari divisi design dan design lo bagus-bagus. Dia nunjukin layout design cup lo dulu di instagram. Lo mau bantuin gue gak?”
... Ini kan acara sekolah lain, kenapa harus minta tolong sama Lana?
“Kenapa minta tolong sama gue,” tanya Lana dengan nada pernyataan, bukannya pertanyaan.
“Karena yang ngelamar divisi design buat acara angkatan semuanya cewek,” jelas Haidar.
“Terus kalo cewek kenapa? selama punya skill ya bagus,” kata Lana lagi.
“Mereka nggak punya skill, mereka mau gabung divisi design cuma karena ada gue,” jelas Haidar sambil menyugar rambutnya, menatap Lana serius.
... Idih. Cowok ini pikir dia ganteng?
“Lo berasa ganteng banget apa ya ngomong gini,” ceplos Lana sambil geleng-geleng heran.
Lebih heran lagi karena tidak biasanya Lana bisa ceplas-ceplos, apalagi pada orang yang baru ditemuinya sekali.
Cowok yang mengenakan kaos hitam polos dan skinny jeans berwarna senada itu berdehem. “Gue emang ganteng, btw.”
Lana bergidik. Ada ya, orang sedemikian pedenya.
“Apapun itu, please bantuin gue, Lan. Gue udah ngerekrut anak-anak yang jago desain dari angkatan gue, semuanya nggak ada yang mau. Malah mau fokus belajar buat SBM. Padahal SBM kan masih tahun depan.” Haidar memohon—lebih ke mendesak sih daripada memohon.
Lana tadinya mau menolak dengan alasan yang sama, mau belajar buat SBMPTN, karena bagaimanapun, dihitung-hitung waktu mereka sampai ke SBMPTN tahun depan kan tidak sampai setahun.
Tapi setelah Lana pikir lagi, ini bisa jadi lahan bisnis baru.
“Ekhem, desain gue gak gratis.”
Lana sang budak kapitalis.
“Cih,” Haidar berdecih, “berapa bayaran lo? sebut aja.”
“Gue dibayar per-desain yang gue buat, dan karena ini bakal jadi event besar ... ya, harganya nggak mungkin nggak besar juga dong, ya.”
“Gampang. Kalo gitu sekarang kita tukeran kontak dulu gimana?”
”... Gimana kalo lo orang jahat?” ceplos Lana, baru terpikirkan kemungkinan itu.
“Lo udah ngobrol sama gue setengah jam dan baru kepikiran kemungkinan orang jahat?”
Lana manggut-manggut. “Gue rasa bukan.”
“Emang bukan.” Haidar berdecak sebal, memangnya ia bertampang kriminal? wajah ganteng begini dibilang orang jahat. “Nih nomor gue.”
Usai menyimpan nomor satu sama lain, Lana bangkit dari posisi duduknya.
“Udah kan?”
Haidar mengangguk. “Udah.”
“Oke, gue balik duluan, ya.”
Haidar mengangguk lagi. “Hati-ha—tunggu.”
Langkah Lana tertahan. Ia menatap Haidar dengan tatapan bertanya.
“Lo ... kemana aja selama hampir dua bulan? biasanya gue selalu lihat lo duduk di sana.” Haidar menunjuk sudut perpustakaan yang sepi. “Duduk di tempat yang kata orang-orang berhantu.”
Lana mendelik. Berhantu?
Lana tidak tahu spot itu dikabarkan berhantu. Ia juga nggak pernah merasakan keanehan selama duduk di sana selain ya, memang, di sana selalu lebih sepi daripada spot lain. Tapi justru itu yang membuatnya semakin nyaman belajar di sana.
“Kok lo ngitungin kalo gue ngilang dua bulan? Terus, kok ... lo merhatiin gue? gue aja gak pernah sadar ada lo di sini.” Lana malah balik tanya.
Haidar menghela napas panjang. “Bukan gue,” kemudian Haidar menunjuk ke arah pintu kaca perpustakaan yang baru saja terbuka karena ada orang yang masuk.
Seorang cowok berwajah blasteran tengah bersandar di salah satu pilar. Sambil melamun, menatap orang-orang yang lalu lalang. “Temen gue masih gagal move on sejak kelas sembilan.”
Lana mengernyit. Mark?
”... oh.” Lana bingung harus bereaksi seperti apa. “Salam buat temen lo.”
'NGOMONG APA LO ALANA KALANI?' Lana memarahi dirinya sendiri dalam hati.
“Gue pulang, dah.”
Haidar manggut-manggut. “Bye, partner. Nanti gue chat.”
Lana mengacungkan jempol.
“Kalo nomor lo gue kasih Mark, boleh?”
Lana yang tadinya sudah beberapa langkah meninggalkan Haidar, jadi balik lagi.
“Jangan-jangan cup sekolah cuma alibi, ya? lo cuma bantuin temen lo modus?”
Haidar gelagapan. “Heh, nggak! enak aja, lo. Proyek penting nih cup sekolah. Beneran!”
Lana melirik Haidar sinis, kemudian berjalan keluar dari perpustakaan tanpa bilang apa-apa lagi.
Di belakang Lana, seorang cowok berwajah blasteran yang tadinya bersandar pada salah satu pilar langsung berdiri tegak, mengamati punggung Lana yang kian lama kian menjauh, hingga menghilang pada belokan menuju halte.