drei
Shanina melangkah keluar. Rencananya ia hendak mengantar Jaemin pulang dulu, baru ia sendiri pulang ke flat kecilnya.
“Shan!”
Terdengar derap langkah mendekat, sebelum akhirnya berhenti di sebelah Shanina yang berdiri di luar studio, menunggu Jaemin keluar karena cowok itu masih punya urusan di dalam.
“Pulang naik apa? gue anter, ya?”
Cowok ini lagi.
“Nggak usah, gue bawa motor sendiri.”
Chenle ber-oh ria. Ia melirik satu-satunya motor yang terparkir di depan studio. Motor yang terlihat manly dan dicat doff.
“Motor lo keren,” puji Chenle.
Cewek yang mengenakan hoodie mint kebesaran itu manggut-manggut. “Thanks.”
“Lain kali gue traktir makan, deh.”
“Kalo lo begini karena merasa bersalah tentang jaket—you don't have to, okay? Cuma jaket.”
Cowok bermata sipit di hadapannya malah senyum-senyum. “Gue mau kenalan aja.”
“Udah kenal.”
“Nama gue siapa?”
Shanina menghela napas. “Chenle.”
Maksud Shanina, siapa sih yang nggak kenal Chenle? Cowok itu sudah sukses sejak usia muda, dan nggak berkenalan secara personal bukan berarti Shanina nggak pernah mendengar nama Chenle. Shanina nggak se-kurang-update itu. Dia kan nggak tinggal di goa.
Chenle malah senyum-senyum. Ia kemudian mengeluarkan ponsel dari kantung celananya, menyodorkannya pada Shanina.
Shanina menaikkan sebelah alis, menatap ponsel keluaran terbaru yang disodorkan padanya.
“Nomor lo.”
Oh ... itu maksudnya.
“Sorry, gue nggak tukeran nomor sama orang di luar urusan pekerjaan.”
“Kita kan bakal ada project ke depannya.”
”???”
“Project pendekatan.”
Shanina merinding. Hampir saja ia menyembur cowok di hadapannya.
“Aneh.”
Chenle membulatkan matanya mendengar gumaman yang keluar dari bibir kemerahan Shanina. Untuk pertama kalinya seseorang menyebutnya aneh, terlebih, di pertemuan pertama.
“Mending lo masuk, gue nggak mau sasaeng lo ngira gue dating sama lo.”
“Ide bagus. Kalo dating beneran gimana?”
Shanina bergidik. “Gila.”