
gue menghempaskan tubuh ke atas ranjang. berharap nyeri di hati gue hilang bersamaan dengan hilangnya penat pada punggung gue. tangan gue merogoh kantung kemeja, mengeluarkan ponsel.
sudah lima hari, dan jendral masih belum membalas chat gue. pun, batang hidungnya tak lagi terlihat di kampus.
gue menghela napas berat. memutuskan untuk berhenti mengecek room chat itu. berhenti khawatir, berhenti memikirkan jendral, dan ... barangkali, berhenti dari segalanya.
mungkin sejak pertama kali gue meraih jendral yang berada di titik terbawahnya itu, gue sudah sadar kalau gue nggak pernah menganggap dia sekadar teman. mungkin alasan gue meraih jendral hari itu karena gue memang sejak lama memerhatikannya dan khawatir, kemudian gue memberanikan diri untuk menggenggam tangannya. mungkin sejak hari itu, mungkin juga sebelumnya, perasaan itu sudah ada. tetapi, hati gue menolak. semakin hari, gue semakin takut perasaan gue membludak dan tak terkendali. gue berusaha keras merespon seadanya, berusaha terlihat normal dan tidak terlalu gembira setiap kali jendral muncul.
gue takut ditinggal lagi.
namun, melihat jendral nggak berusaha menjelaskan gosip yang beredar di kampus tentang dia dan maudy ke gue, membuktikan bahwa ... gue memang sudah kehilangan dia.
atau sejak awal, dia memang nggak pernah benar-benar di sisi gue.
dipikir lagi, dia cuma muncul waktu butuh. waktu nggak punya teman.
barangkali gue cuma dijadikan tempat lari dari ingar-bingar dunia, karena jendral tahu dia nggak akan pernah bisa jadi dirinya sendiri di tengah popularitas dan teman-temannya yang palsu itu.
oke, gue tahu beberapa menit lalu gue sudah memutuskan untuk nggak mengecek room chat gue dan jendral untuk ke-128 kalinya di hari ini, tapi siapa tahu??? dia??? membalas???

terserah.
meski sangat ingin bergelung di dalam selimut selama seminggu ke depan, gue melangkah dengan gontai ke luar kosan. sebenarnya gue nggak lapar, tapi gue tahu gue harus makan atau gerd gue bakal kumat lagi.
dari kejauhan, terlihat tenda nasi goreng pakdhe. aromanya tercium sampai sini.
ralat, mungkin gue memang lapar.
gue mempercepat langkah menuju tenda terpal berwarna oranye dengan spanduk bergambar lele, ayam, cumi, dan itik. namun, sebelum gue benar-benar sampai di sana, langkah gue terhenti.
mata gue memicing, menatap cowok dalam balutan jaket kulit hitam dan ripped jeans berwarna senada.
jendral?
sadar sedang diperhatikan, cowok itu celingukan, mencari sosok yang tengah mengamatinya.
pandangan mata kami bertemu.
ia tampak terkejut, namun dengan segera ia mengalihkan pandangannya.
“jen.” samar, dapat gue dengar suara perempuan yang baru saja keluar dari balik tenda. ia tersenyum manis. “tadi aku nungguin abangnya masak, aromanya enak bangettt. aku gak sabar mau makan.”
aku?
pulih dari keterkejutan, gue mempercepat langkah untuk menghampiri jendral. namun, sebelum gue sempat menghampiri jendral, cewek itu sudah naik ke boncengan jendral—dan motor itu pun melaju, meninggalkan asap knalpot dan gue ... yang cuma bisa mematung melihat punggung kedua muda-mudi itu lenyap di balik tikungan.