zwölf


Hujan deras mengguyur Jakarta petang itu, kala matahari telah tenggelam sepenuhnya di balik garis horizon. Semburat jingga telah lenyap pula, menyisakan warna hitam-abu-abu pekat tanpa hamparan bintang.

Haidar dan Lana pun memutuskan untuk berteduh di bawah kanopi minimarket, duduk kursi dan meja yang tersedia di emperan toko. Untungnya, masih ada satu spot tersisa.

“Mau minum apa, Lan?” tanya Haidar begitu Lana mendaratkan bokongnya pada salah satu kursi. Haidar melepas ranselnya yang setengah basah karena terkena rintik hujan, meletakkannya di atas meja.

“Air putih aja,” jawab Lana tanpa pikir panjang. Lana memang jarang minum selain air putih.

Sebenarnya Lana suka soda, tapi ia sadar kalau minuman berkarbornasi itu tidak baik untuk kesehatannya. Karenanya ia tidak minum soda. Minuman lain? apa ya ... Lana bingung, ia tidak minum macam-macam.

Cowok berkulit kecoklatan itu melirik ujung-ujung jemari Lana yang pucat, begitu pula wajahnya.

Ia menghela napas, kemudian masuk ke dalam minimarket untuk membeli sesuatu.

Tak lama kemudian, Haidar keluar bersama sebuah nampan berisi sebotol air mineral, dua porsi mi rebus instan dalam cup, serta sebuah gelas kertas berisi kopi.

Lana memindahkan tasnya yang tergeletak tidak sopan di atas meja, kemudian menghidangkan makanan hangat itu di sana. Ia melirik makanan yang Haidar bawa. Astaga ... ia baru sadar kalau belum makan apapun sejak pagi.

“Makan,” perintah Haidar. Ia masuk kembali ke minimarket untuk mengembalikan nampan setelah memindahkan isinya ke atas meja.

Tak lama kemudian, Haidar kembali ke hadapan Lana. Ia melepas jaket denimnya, kemudian menggantungnya di sandaran kursi. “Met makan, Lana.”

Lana menelan salivanya. Aroma mie instan itu semerbak sekali. Perutnya keroncongan. “Thanks, Dar,” kata cewek yang matanya masih sembab itu.

Haidar manggut-manggut. Cowok itu meraih tas yang ia letakkan di bawah, kemudian mengeluarkan lunch box berwarna hijau neon. Brand Taperwer kesayangan ibu-ibu seantero negara. Ia pun membuka tutup lunch box.

“Pake nasi, Lan. Biar kenyang.” Haidar menggeser lunch box ke dekat Lana yang sedang meniup mie-nya dengan sabar.

Lana mengerjap, ia menatap nasi itu dengan dramatis.

“Gue cinta nasi.”

Haidar menatap Lana datar, lalu mendadak berceloteh. “Makan nih, masukin aja nasinya ke dalam cup biar kuahnya cepet dingin. Kalo anget kan lo bisa langsung makan semuanya.”

Lana manggut-manggut. “Hmm.”

Ia memasukkan sedikit dari nasi dingin itu ke dalam cup mie-nya.

“Ini kan bekal sekolah, Dar. Kok nggak dimakan di sekolah?” Lana menyuap nasi lembek dengan garpu plastik.

“Nasi doang, gimana gue mau makan,” jawab Haidar sekenanya. Cowok itu makan dengan cepat. Belum apa-apa, mie di cup-nya sudah tersisa setengah.

“Kan lo bisa beli lauk di kantin,” lanjut Lana seraya menikmati makanannya.

“Bosen gue sama makanan kantin.”

“Kalo gak makan ntar maag, lho,” kata Lana yang notabene punya penyakit maag akut sehingga membuatnya punya banyak pantangan makanan maupun minuman. Merepotkan sekali. Ia tidak ingin orang lain punya penderitaan serupa dengannya.

Haidar menatap Lana datar. “Haduh, serius deh, Lan. Lo pikir gue goblok apa? gue malak makanannya Mark, lah!”

Lana mendelik. “Demi apa sih sumpah lo akhlakless banget.”

“Bekalnya Mark selalu enak, Bundanya rajin masak,” jelas Haidar, “Mark-nya juga ga masalah, jadi ya, bekalnya Mark sharing lah sama gue.”

Lana cuma geleng-geleng kepala sebagai balasan. Kepalanya masih blank karena terlalu lama menangis.

Kemudian hening, hanya terdengar suara derai hujan dan langkah kaki orang yang mulai berdatangan satu per satu, berkerumun memenuhi emperan minimarket.

Gadis dengan rambut pendek yang lepek itu meneguk kuah dari dalam cup. Dalam hati, ia mensyukuri kehadiran Haidar hari ini.

Jangan-jangan, Tuhan tak pernah benar-benar membiarkan Lana sendirian. Jangan-jangan, Lana sejujurnya tak pernah benar-benar 'ingin sendiri' dan pergi.

Jangan-jangan, sebenarnya jauh dalam lubuk hati Lana, ia ingin terbebas dan 'ditemukan'.

Lana bersyukur Haidar datang.