zwei
“Thanks, Na,” kata cowok yang mengenakan kaos hitam polos dan celana jeans itu begitu menerima gitar dari Shanina. “Mampir dulu, Na. Gue abis pesen jjampong. Sekalian makan sama temen-temen gue yang lain.”
Shanina menatap Jaemin datar. Tapi Jaemin tahu, cewek itu bingung. Soalnya, sejauh mereka kenal selama ini, Jaemin nggak pernah mengajaknya makan bersama teman-temannya.
“Gue—”
“Nggak ada penola—”
Brugh!
Shanina terdorong ke depan. Seseorang menubruk bahunya dengan sembrono, membuat Shanina hampir jatuh di atas Jaemin.
“Sorry, sorry!“
Sebelum Shanina pulih dari rasa syoknya, Jaemin langsung buru-buru masuk ke dalam studio untuk tak lama lagi keluar membawa hoodie berwarna mint-nya yang entah berapa lusin ia punya.
“Jaket lo basah.” Jaemin menunjuk noda kopi di lengan Shanina—yang sebenarnya nggak perlu diperjelas lagi karena Shanina juga tahu kalau jaketnya basah sekarang.
“Maaf banget ya, gue nggak sengaja.” Seorang cowok berambut cokelat gelap itu memungut gelas kopinya dari lantai seraya menatap Shanina dengan rasa bersalah. “Gue cuciin ya jaketnya?”
Shanina membalas dengan lempeng, seperti biasanya. “Nggak usah.”
“Kalo gitu laundry-nya—” Cowok itu mengeluarkan dompet dari celananya.
“Nggak usah. Gapapa. Santai aja.”
Sementara itu Jaemin melepas jaket Shanina dengan seenaknya, dan Shanina juga menurut saja.
Cewek itu cuma pakai tanktop tipis di balik jaketnya, membuat Jaemin menelan salivanya dengan canggung dan buru-buru memakaikan hoodie-nya pada Shanina.
“Tangan lo,” kata Jaemin melirik tangan Shanina.
Cewek berambut panjang itu memasukkan tangannya ke dalam lengan hoodie.
Kalau dilihat-lihat, Jaemin persis seperti seorang Ayah yang memakaikan anaknya hoodie saat ini.
“Udah, Le. Gapapa. Makan dulu, yuk,” ajak Jaemin pada cowok yang masih menatap Shanina dengan rasa bersalah.
Cewek itu sendiri melirik cowok yang menabraknya tadi dengan datar, kemudian memutuskan untuk mengikuti langkah Jaemin ke dalam ruang tunggu, meninggalkan cowok yang menyusul dengan langkahnya yang lebar-lebar.