
Misi Pertama: Terbang ke Korea
“Hai, malaikat ganteng.”
Ten mencebik mendengar sapaan gadis dengan pakaian khas pasien rumah sakit, piyama panjang polos berwarna biru pucat.
“Kamu punya misi pertama.”
“Apaan tuh? jadi pendamping hidup kamu?” goda gadis itu seraya menaikturunkan kedua alisnya.
Cowok berpakaian serba hitam itu menepuk dahi. “Saya aja nggak hidup, Bel.”
“Hidup sih, tapi jadi malaikat, hehe.”
“Iya, malaikat yang bisa bawa kamu kapan aja.”
“Bawa aja sekarang.”
Ten mendelik mendengar gadis itu terus-menerus menyahuti perkataannya. Ia menghela napas sambil menggeleng pelan. “Jangan ngomong gitu, ya, Bel. Kamu tuh belum bisa dibawa pergi. Masih ada misi yang harus diselesaiin.”
Abel manggut-manggut. “Ya udah apa?”
“Terbang ke Korea. Kamu harus menemukan alasan kamu bertahan di sana.”
“Tapi kan aku udah nggak hidup.”
“Abel!” desis Ten tidak sabaran. “Tolong jangan ngomong gitu terus, saya bisa dimarahin bos saya!”
“Hehehe.” Abel yang duduk di tepi meja operasi itu menggoyang-goyangkan kedua kakinya yang telanjang. “Caranya saya ke Korea gimana?”
“Pikir sendiri lah! yang punya misi kan kamu,” omel cowok berkemeja hitam kelam itu. Ia membetulkan letak kacamata berbingkai tipis berwarna senada. “Udah ya, saya banyak kerjaan. Saya pusing kerjaan saya banyak yang terbengkalai karena kamu gangguin terus.”
Abel cengar-cengir. “Yah, itu mah kamunya aja kurang pro jadi malaikat.”
Ten melotot, kemudian memutuskan untuk nggak menyahuti gadis iseng di hadapannya. Ten memutuskan berbalik, kemudian ia pun lenyap ditelan bayang.
Abel menggerutu dalam hati. Sebenarnya Ten tuh tugasnya apa, sih? dan kenapa Abel di sini? kenapa Abel punya misi? Abel kira, kalau dia sudah lepas dari tubuhnya, dia tinggal pergi saja. Konon kata orang-orang yang pergi dengan cara yang sama seperti Abel, rasanya sakit sekali saat dijemput, tapi hal yang sama nggak terjadi pada Abel. Sebentar deh, memangnya mereka masih bisa disebut orang, ya?
Wajarnya, Abel bisa berpindah tempat dengan cepat. Sekejap dia berada di ruang operasi, kadang di kamar pasien lain, kadang di laboratorium. Ia bisa pindah kemana saja. Setidaknya begitulah yang Abel pikir. Apalagi Abel pernah pergi ke Dofun tanpa biaya transportasi dan main wahana sepuasnya! Keren banget. Jadi, wajar aja kalau Abel pikir dia betulan bisa pergi kemana saja dengan wujudnya sekarang.
Sebenarnya juga Abel kurang mengerti teknisnya bagaimana, yang ia tahu hanyalah kemana pun ia mau pergi, ia bisa sampai ke sana dalam sekejap.
Tapi masalahnya, Abel nggak bisa tiba-tiba pergi ke Korea. Ia sudah berulang kali memikirkan Korea-Korea-Korea tapi gagal. Ia masih stuck di ruang operasi tempatnya terakhir mengobrol dengan Ten.
“Hey!”
Abel menoleh, mendapati seorang wanita dengan wajah setengah hancur melambai pelan dari balik tirai ruang operasi yang tak tertutup penuh. Gaun pasiennya yang berwarna hijau pucat dengan sedikit bercak darah berembus pelan. Wanita yang tampaknya seumuran dengan Abel itu tersenyum dengan wajahnya yang nggak sempurna lagi.
“Hai!” Abel tersenyum lebar, balas melambai pada wanita itu. Penghuni rumah sakit ini memanggilnya Queensha. Panggilan barunya karena dia nggak ingat namanya.
Sebentar, tmi sedikit. Queensha bilang, dia sendiri yang request ke teman-teman sejawatnya supaya dipanggil dengan nama itu karena katanya namanya keren. Kayak orang kaya di sinetron. Yah, Queensha emang suka nimbrung nonton sinetron di rumah sakit.
“Kamu kok diem aja di sini?” tanya Queensha. Ia ikut duduk di sebelah Abel yang duduk di tepi meja operasi.
Abel manggut-manggut. “Iya, aku tiba-tiba nggak bisa kemana-mana.”
“Lho, kenapa?” Queensha tampak terkejut, yang sebenarnya membuat wajahnya tampak lebih mengerikan lagi, namun nggak membuat Abel takut karena ia sudah cukup beradaptasi setelah beberapa bulan berkeliaran di rumah sakit ini.
Abel menimbang-nimbang apakah sebaiknya dia memberi tahu Queensha tentang misinya pergi ke Korea atau tidak. Bagaimana kalau misi ini sebenarnya rahasia? tapi Ten sama sekali nggak bilang kalau misi ini rahasia. Lagian, Abel bukan agen kayak James Bond. Tapi tetap saja Abel ragu.
“Kamu udah mau jadi hantu?” tanya Queensha seraya tersenyum lebar. “Kamu mau ikut aku?”
Mata Abel berbinar. “Mau banget! tapi kata Ten belum boleh.”
Queensha ber-“cuih” mendengar penuturan Abel. “Tuh kan, kamu ngomongin Ten lagi.”
Abel mengerucutkan bibir. “Sumpah deh kalian tuh kenapa sih nggak ada yang percaya ... Ten tuh beneran ada.”
Queensha manggut-manggut. Tangannya mengelus rambut Abel pelan. “Kasihan ... pantas aja kamu mati di umur muda kayak aku.”
“Aku bukan mati gara-gara halusinasi, ya!” protes Abel.
“Cup cup cup. Mendingan sekarang kamu ngapain gitu, nonton sinetron bareng aku, mau? jam delapan malam nanti ada sinetron romantis.”
Abel menggeleng horror. “Nggak, deh. Makasih.”
Queensha melompat turun dari meja operasi. “Ya udah kalo gitu. Kamu jangan kelamaan galau, ya. Cari pacar sana biar gak galau lagi, hihihi.”
Queensha melenggang pergi, menembus pintu ruang operasi, meninggalkan Abel yang mengernyitkan dahi.
Bukannya pacaran malah bikin tambah galau?